TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA (TPI) DALAM TINJAUAN ORGANISASI BELAJAR
Eko Wahyu Wibowo
Erma Yulia
Heri Triyono
Pesatnya pertumbuhan televisi di Indonesia yang menyuguhkan berbagai tayangan di layar kaca khalayak pemirsa, ternyata juga menumbuhkan sejumlah persoalan. Berbagai analisa dampak siaran televisi menunjukkan adanya permasalahan yang cukup rumit. Tontonan kekerasan dan seksualitas di televisi dikritik oleh berbagai pihak karena dianggap menjadi penyebab berbagai kemerosotan moral dan kemanusiaan. Perilaku kekerasan, hedonis dan konsumtif semakin berkembang, menjadi cermin pergeseran nilai di tengah-tengah masyarakat kita, dimana televisi mempunyai peran signifikan.
Televisi adalah media yang potensial tidak saja untuk menyampaikan informasi tetapi juga membangun dan membentuk karakter serta perilaku seseorang, baik ke arah positif maupun negatif, disengaja ataupun tidak. Efek yang ditimbulkan media televisi, sudah tentu diharapkan memberikan nilai heuristik dalam kehidupan manusia. Meskipun kita menyadari, tidak bisa menghilangkan efek negatif atau buruk sebagai konsekuensi ketaksaan (ambiguitas) peran dari TV. Akhir-akhir ini, yang menjadi sorotan adalah efek negatif dari televisi. Secara fakta ini dikarenakan sebagian besar pelaku industri televisi cenderung menerapkan jalan pintas untuk mengeruk keuntungan. Sedangkan efek positif masih jauh dari harapan dan perlu kerja keras serta kesadaran berpartisipasi kita selaku manusia baik secara individual ataupun sosial (masyarakat) untuk merealisasikannya.
TV dapat menjadi media pendidikan, media hiburan dan informasi. TV sangat mungkin bisa membawa pesan pendidikan (pembelajaran) sesuai sasaran yang telah di tetapkan selain mampu menyajikan dan memberikan penekanan kepada pesan-pesan yang diinginkan agar lebih mudah dicerna oleh sasaran.
TV dapat menjadi media pendidikan, media hiburan dan informasi. TV sangat mungkin bisa membawa pesan pendidikan (pembelajaran) sesuai sasaran yang telah di tetapkan selain mampu menyajikan dan memberikan penekanan kepada pesan-pesan yang diinginkan agar lebih mudah dicerna oleh sasaran.
Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) berdiri sejak tanggal 23 Januari 1991, sebagai stasiun komersial ketiga yang diizinkan beroperasi. Uniknya, dengan alasan sudah ada dua siaran televisi swasta bersifat umum, stasiun ketiga ini diberikan sifat khusus yakni hanya diizinkan memfokuskan diri pada pendidikan seperti terefleksi pada namanya, Televisi Pendidikan Indonesia. Jauh lebih unik lagi, sejak awal TPI seakan ditempelkan pada TVRI dengan meminjam fasilitas produksi dan penyiaran TVRI pada pagi hari. Seakan-akan TPI ini adalah TVRI "swasta" pada pagi hari. Barulah pada sore dan malam hari TPI menggunakan fasilitas penyiaran mereka sendiri yang mula-mula masih terbatas. (Hidayat, dkk., 2000:178)
Pada prakteknya, terlepas dari beberapa materi pendidikan formal, bagian terbesar isi TPI adalah pendidikan di luar sekolah dan pendidikan informal, seperti berita dan informasi, olah raga, program-program hiburan, musik, kuis, film seri, dan drama. Jadi batasan "pendidikan" di sini sungguh-sungguh ditarik seluas mungkin, yakni bahwa "pendidikan 'berlangsung di dalam dan sepanjang hidup manusia". (Hidayat, dkk., 2000:179).
Jumlah produksi lokal TPI sangatlah menyolok. Yang paling penting dicatat, jumlah program pendidikan TPI makin lama makin menurun dan pelan-pelan diambil alih oleh program-program hiburan. Pada saat yang sama, kritik terhadap kenyataan ini tumbuh dahsyat di kalangan masyarakat (Kuswandi, 1996: 46). Selain alasan bahwa pendidikan berlangsung dalam arti dan arena yang begitu luas tadi, TPI juga menyodorkan alasan bahwa mereka tidak mungkin hidup jika hanya berisi program pendidikan (formal). Akhirnya mungkin juga sebagai sebuah bentuk kompromi TPI berusaha memposisikan dirinya sebagai "televisi keluarga", sedangkan embel-embel "pendidikan" hanya diperlukan kalau kita membicarkan izin operasional yang dikekarkan oleh pemerintah untuk TPI. (Hidayat, dkk., 2000:179).
Dalam perkembangannya ternyata Sejak tanggal 20 Oktober 2010, TPI berubah menjadi MNCTV yang digawangi oleh Hary Tanoesoedibjo selaku CEO MNC Group, yang menandakan berakhirnya era pertelevisian pendidikan di Indonesia. Walaupun secara hukum, namanya masih menggunakan TPI.
Pada prakteknya, terlepas dari beberapa materi pendidikan formal, bagian terbesar isi TPI adalah pendidikan di luar sekolah dan pendidikan informal, seperti berita dan informasi, olah raga, program-program hiburan, musik, kuis, film seri, dan drama. Jadi batasan "pendidikan" di sini sungguh-sungguh ditarik seluas mungkin, yakni bahwa "pendidikan 'berlangsung di dalam dan sepanjang hidup manusia". (Hidayat, dkk., 2000:179).
Jumlah produksi lokal TPI sangatlah menyolok. Yang paling penting dicatat, jumlah program pendidikan TPI makin lama makin menurun dan pelan-pelan diambil alih oleh program-program hiburan. Pada saat yang sama, kritik terhadap kenyataan ini tumbuh dahsyat di kalangan masyarakat (Kuswandi, 1996: 46). Selain alasan bahwa pendidikan berlangsung dalam arti dan arena yang begitu luas tadi, TPI juga menyodorkan alasan bahwa mereka tidak mungkin hidup jika hanya berisi program pendidikan (formal). Akhirnya mungkin juga sebagai sebuah bentuk kompromi TPI berusaha memposisikan dirinya sebagai "televisi keluarga", sedangkan embel-embel "pendidikan" hanya diperlukan kalau kita membicarkan izin operasional yang dikekarkan oleh pemerintah untuk TPI. (Hidayat, dkk., 2000:179).
Dalam perkembangannya ternyata Sejak tanggal 20 Oktober 2010, TPI berubah menjadi MNCTV yang digawangi oleh Hary Tanoesoedibjo selaku CEO MNC Group, yang menandakan berakhirnya era pertelevisian pendidikan di Indonesia. Walaupun secara hukum, namanya masih menggunakan TPI.
Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dan Organisasi Belajar
TPI dikaitkan dengan organisasi pembelajar, maka seharusnya konsep organisasi belajar muncul dalam konteks perubahan lingkungan dan daya saing, dimana organisasi membutuhkan kompetensi dan kepemimpinan untuk mentransformasi pengetahuan kepada seluruh anggota organisasi. Dengan dukungan lingkungan organisasi belajar yang kondusif diharapkan dapat menciptakan orang-orang yang berpengetahuan (knowledge pople) dengan kompetensi yang dapat diandalkan. Selain itu dukungan kepemimpinan yang memberdayakan (empowerement), artinya memberikan pendelegasian dan dukungan positif kepada setiap anggota organisasi dalam aktivitas pembelajaran dan memperbaiki kinerja.
Peter Senge (1996) dalam Yusufhadi Miarso (2002), mengemukakan definisi organisasi belajar sebagai suatu disiplin untuk mengembangkan potensi kapabilitas individu dalam organisasi yang dikenal dengan The Fifth Dicipline sebagai berikut:
Peter Senge (1996) dalam Yusufhadi Miarso (2002), mengemukakan definisi organisasi belajar sebagai suatu disiplin untuk mengembangkan potensi kapabilitas individu dalam organisasi yang dikenal dengan The Fifth Dicipline sebagai berikut:
1) Berpikir Sistem (Systems Thinking)
Organisasi
harus mampu melihat pola perubahan secara keseluruhan, dengan cara berpikir
bahwa segala usaha manusia saling berkaitan, saling mempengaruhi dan membentuk
sinergi.
2) Penguasaan
Pribadi (Personal Mastery)
Penguasaan
pribadi ini merupakan suatu disiplin yang antara lain menunjukan kemampuan
untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan energi,
mengembangkan kesabaran, dan memandang realitas secara obyektif. Kenyataan
menunjukkan bahwa seseorang memasuki suatu organisasi dengan penuh semangat,
tetapi setelah merasa “mapan” dalam organisasi itu lalu kehilangan semangatnya.
3) Pola Mental (Mental Models)
Setiap
perlu berpikir secara reflektif dan senantiasa memperbaiki gambaran internalnya
mengenai dunia sekitarnya, dan atas dasar itu bertindak dan mengambil keputusan
yang sesuai.
4) Visi Bersama (Shared Vision)
Visi
bersama adalah komitmen dan tekad dari semua orang dalam organisasi, bukan
sekedar kepatuhan terhadap pimpinan.
5) Belajar Beregu (Team Learning)
Belajar
beregu diawali dengan dialog yang memungkinkan regu itu menemukan jati dirinya.
Dengan dialog ini berlangsung kegiatan belajar untuk memahami pola interaksi
dan peran masing-masing anggota dalam regu. Belajar beregu merupakan unsur
penting, karena – regu bukan perorangan – merupakan unit belajar utama dalam
organisasi.
TPI sejatinya sebagai sebuah organisasi, tak
hanya organisasi media saja tentunya, tapi juga harus terus berusaha mewujudkan
visi dan misinya. Selain itu pemilihan slogan (Makin Indonesia, makin asyik
aja) sebagai sepotong kalimat yang dijadikan sebagai “merk” organisasi tersebut
juga seharusnya benar-benar direalisasikan, mengingat slogan merupakan kalimat
yang paling diingat oleh masyarakat sebagai identitas keberadaan sebuah
organisasi, sekaligus sebagai “merk” dari organisasi tersebut.
Visi dari TPI yaitu “paling Indonesia pilihan
pemirsa”, jika melihat secara keseluruhan acara yang ditayangkan oleh TPI
memang didominasi oleh acara buatan anak negeri, terutama dilihat pada program
Sinema Asyik dan Sinetron Asyik-nya. Sejalan dengan riset yang dilakukan oleh
AGB Nielsen untuk tahun 2007 lalu TPI memang menyajikan program berseri dan
film berbau lokal lebih banyak dibandingkan genre program lainnya. Ditemukan
bahwa ada 1.880 tayangan berseri lokal dan 1.446 film lokal yang diputar TPI.
Bahkan perbandingan antara program lokal dan non lokal untuk di tahun 2007
kemarin mencapai angka 86:14 dan sebelumnya di tahun 2006 berada di angka
90:10. Namun sayangnya program TPI disini tetap saja seperti program TV swasta
umumnya yaitu adanya kecenderungan Jakarta centered dimana budaya, kehidupan
sehari-hari, penggunaan bahasa, cara berpakaian, sangatlah Jakarta sekali.
Padahal seharusnya jika TPI memang memutuskan visinya sebagai stasiun TV yang paling
Indonesia mereka bisa menggambarkan Indonesia dari Sabang hingga Merauke dalam
program-program acaranya.
TPI juga berhasil mendapatkan hati anak-anak
berumur 5-9 tahun pada 2007
lalu. Ada sekitar 93.000 anak di 10 kota besar di Indonesia yang memilih
tayangan di TPI sebagai tontonannya sehari-hari. Meski anehnya dari keseluruhan
program tayangan anak-anak TPI di tahun 2007 secara total merupakan tayangan
non lokal. Disebutkan oleh AGB Nielsen ada sekitar 713 jam acara anak-anak non
lokal yang diputar dari keseluruhan jam tayang TPI selama setahun.
Selama ini industri TV dianggap sebagai sebuah
lingkaran setan antara 3 aspek, yaitu rating, pemodal iklan dan produser
program. Ketika sebuah acara diproduksi sebisa mungkin ia disiapkan untuk
mendapatkan rating yang tinggi, agar para pemodal iklan akan banyak yang
memasang iklan saat acara tersebut ditayangkan. Hal ini tentu saja akan membawa
banyak keuntungan bagi si produser. Karena nafsu produser akan keuntungan yang
besar tersebutlah mereka akan berlomba-lomba menciptakan acara yang bisa meraih
rating tinggi sehingga kualitas acaralah yang pada akhirnya dikorbankan. Mereka
lebih semangat menciptakan acara yang bisa memperbesar pundi uangnya daripada
menciptakan acara yang bermanfaat untuk masyarakat.
Lingkaran setan ini merupakan perwujudan dari
sistem penyiaran komersial yang tertarik pada segmen pemirsa tertentu ketimbang
keseluruhan pemirsa secara nasional, memasang acara-acaranya untuk memikat dan
merangkul pemirsa sasarannya (Labib, 2002:32). Sejalan dengan yang diutarakan
oleh Kitley (2000:81) dalam Labib (2002:32), Tujuan penyelenggaraan
siaran adalah mengantarkan pemirsa (yang
tersegmentasi secara demografis dan psikografis) yang bisa diprediksi untuk
pengiklan, sumber utama pendanaan bagi penyiaran komersial. Penyelenggara
sistem komersial membangun pemirsa sebagai pasar dan penonton. Mengingat tujuan
utama penyelenggara siaran komersial adalah mengantarkan penonton kepada para
pengiklan agar mereka bsa memikat perhatian pemirsa serta memuaskan tujuan
ekonomis mereka.
Usaha TPI di dalam mewujudkan misinya yang
ingin menyajikan tayangan bercitarasa Indonesia yang inspiratif untuk memajukan
masyarakat. Sesuatu yang bersifat ataupun bercitarasa Indonesia seharusnya
memang benar-benar bisa membawa Indonesia ke dalam layar kaca untuk kemudian
disaksikan oleh masyarakat Indonesia. Namun sekali lagi, hampir secara
keseluruhan acara di TPI masih cenderung Jakarta centered. Mungkin hanya acara
Lintas Jatim dan Jendela saja yang menyentuh daerah lain di Indonesia selain
Jakarta.
Apakah acara di TPI memang sudah mampu
menginspirasi pemirsanya dan memajukan masyarakat? Melihat dari jadwal acara
kesehariannya, rata-rata TPI hanya berkisar pada acara berita dan sinetron
asyik atau sinema asyiknya itu. Apalagi jika memperhatikan judul-judul sinetron
atau sinema yang mereka katakan asyik itu sebenarnya sama sekali tidak bisa
dikatakan inspiratif dan memajukan masyarakat. Tampaknya TPI perlu meredefinisi
arti dari inspiratif dan memajukan masyarakat. Karena jika hal seperti itu
dikatakan dapat menginspirasi dan memajukan masyarakat maka justru akan menjadi
sesuatu yang sangat memprihatinkan dan membahayakan.
Sebagai stasiun TV yang mengklaim dirinya
sebagai TV pendidikan di Indonesia, mereka seharusnya juga menyajikan
tayangan-tayangan yang mendidik bagi anak-anak Indonesia. Namun yang mereka
lakukan adalah menjejali pikiran anak-anak dengan acara berbudaya non Indonesia
seperti kartun Malaysia Upin dan Ipin serta Bola Kampung yang tak mustahil
dapat menggerus rasa cinta budaya Indonesia pada diri anak-anak tersebut. Belum
lagi kartun Tom and Jerry yang sarat dengan kekerasan tersebut (merupakan salah
satu tayangan anak-anak yang dianggap berbahaya oleh Yayasan Pengembangan Media
Anak/YPMA). TPI juga dikenal sebagai salah satu stasiun TV yang masih suka
menayangkan sinema Bollywood dari India. Jika sudah begini, manakah yang
dikatakan oleh mereka “Makin Indonesia” itu?
Pernyataan
dari TPI sendiri sebagai TV Pendidikan Indonesia rasanya masih perlu
dipertanyakan. Masyarakat akan dapat belajar lebih banyak tentang segala hal
dari berbagai acara yang berformat utama informasi atau berita, tentunya yang
berkualitas. Namun untuk kedua genre tersebut di tahun 2007 hanya disediakan
sekitar 1807 jam dan untuk tayangan bersifat hiburan seperti sinetron, film dan
acara musik mendapatkan jatah selama 4927 jam. Berikut adalah perbandingan
tayangan edukatif dan non edukatif yang ditayangkan oleh 9 TV swasta Indonesia.
EDUKATIF
HIBURAN
TPI : 19% : 81%
RCTI : 15,6% : 84,4%
SCTV : 14,28% : 85,72%
ANTV : 12,24% : 87,76%
INDOSIAR
: 12,24% : 87,76%
Trans TV
: 29,93% : 70,07%
Trans 7 : 21% : 79%
Global
TV : 2,72% : 97,28%
Lativi/TV
ONE : 5,44% : 94,56%
Sumber:
Masduki & Muzayin Nazaruddin (2008)
Berbagai
unsur tak layak konsumsi bagi masyarakat yang tentu saja tak mendidik juga
masih kerap tampak di layar kaca TPI. Misalnya unsur seksualitas dalam tayangan
Siapa Takut Jadi Janda atau di acara-acara musik TPI yang kental dengan nuansa
musik Dangdutnya itu yang sering menampilkan goyangan tubuh yang tergolong
tidak sopan, unsur mistis yang ternyata masih saja digemari oleh masyarakat
Indonesia.
Penutup
Mungkin ada benarnya jika TPI dianggap gagal
merepresentasikannya visi, misi dan slogannya dalam acara-acara mereka. TPI
terlihat tidak konsisten dengan apa yang telah mereka susun sebagai acuan
kinerja mereka, yaitu visi dan misi tersebut. Masih kurangnya citarasa
Indonesia dalam tayangan-tayangannya, banyaknya hal-hal yang sama sekali tidak
mendidik dan inspiratif bagi masyarakat,
lebih-lebih membahayakan bagi perkembangan masyarakat ke depannya nanti,
bukannya memajukan masyarakat Indonesia.
Keseragaman
konten antarmedia sebenarnya terjadi antar-TV
swasta Indonesia yang memang secara sadar saling mengintip dan menguntit
program-program siaran rekannya. Fenomena ini begitu mengganggu sebagian
masyarakat yang benar-benar menginginkan media berkualitas di Indonesia. Maka
sebaiknya SDM di dalam organisasi-organisasi media tersebut segera berbenah
diri, meningkatkan kualitas dan produktivitas kerja mereka agar bisa menjadi
pekerja media yang lebih kreatif dan inovatif lagi di dalam memproduksi
program-program TV yang benar-benar mampu memuaskan keinginan khalayak. Hal ini
jugalah yang sepatutnya dapat menuntut para pekerja media Indonesia untuk
memproduksi tayangan TV yang budayanya tidak nanggung, low culture tidak
tapi high culture pun tidak. Akan jauh lebih baik jika mereka
memproduksi semua tayangan TV dengan standar high culture, yaitu produk
tontonan yang menyajikan nilai-nilai dan norma-norma bernilai tinggi,
memberikan wawasan, dan mendidik.
Jika boleh dibilang ‘gagal’, maka TPI benar-benar gagal karena tidak hanya gagal mempertahankan visi dan misi pendidikannya tetapi juga ‘terjual’ pada pihak lain yang kemudian merubah eksistensi dasarnya.
Referensi
Hidayat, Dedy N., Effendi Gazali,
Harsono Suwardi, Ishadi S. K., 2000, Pers dalam Revolusi-Runtuhnya Sebuah
Hegemoni, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Krishandi, Ariena. 2009. TPI: Televisi “Paling Indonesia”. http://kumpulankata.wordpress.com/2009/02/08/tpi-televisi-%E2%80%9Cpaling-indonesia%E2%80%9D/ [26 Maret 2012]
Pusat Sumber Daya Komunitas, 2011. Televisi Komunitas: Media Pemberdayaan Masyarakat. http://kombinasi.net/televisi-komunitas-media-pemberdayan-masyarakat/ [26 Maret 2012]
Senge, Peter M., 1996, Disiplin Kelima,
Seni dan Praktek dari Organisasi Pembelajar, Bina rupa Aksara, Jakarta.
Wkipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/MNCTV [24 Maret 2012]
Yusuf, Adie E. 2008. Organisasi Belajar. http://teknologikinerja.wordpress.com/2008/05/06/organisasi-belajar/ [26 Maret 2012]
Zulkarnain, Iskandar. 2010. Media televisi dan Pembangunan Karakter Bangsa.http://inspirasitabloid.wordpress.com/2010/06/15/media-televisi-dan-pembangunan-karakter-bangsa/
[24 Maret 2012]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar